Total Pageviews

Monday, June 18, 2012

Yokohama Day Out!



It was a very damn crazy weather when we were in Minato Mirai, Yokohama, Japan. my umbrella went crazy as it was shaking upside down. But, there's no other better than seeing the illuminating of yokohama giant wheel <3 you all should see what i saw!


SHOCK! Were they monsters? Absolutely not. They were parts of the Nebuta Matsuri (festival) comes from Aomori Prefecture in the North part of Japan.


Words can't describe how I miss Indonesian food so damn much! There we found one in Yokohama World Porters. Where from the window you can see the beauty of Minato Mirai while enjoying delicious cullinary. RECOMMENDED!


Just a group photoshop in front of Takashimaya shopping center. One said it's one of the most prestigious shopping place in Japan. Just go out from yokohama Station West exit and there you go!


Escalators? Elevators? We chose stairs as what mostly the Japanese does. Go sightseeing around Yokohama Station.

My Japanese life as an exchange student


Jepang memang indah. Negara ini memang tidak terlalu besar secara fisik. Tetapi, sangat kental budayanya. Namun, bukan berarti kuno. Jepang sangat fleksibel terhadap perkembangan zaman modern dengan tetap melestarikan kebudayaan yang telah ada. Hal yang paling dominan adalah bagaimana masyarakat Jepang sendiri menyikapinya.

              Saya merasa sangat beruntung karena mendapatkan kesempatan untuk tinggal dan mempelajari budaya mereka selama kurang lebih setahun. Selama kurun waktu kurang lebih tiga bulan ini, begitu banyak hal yang perlu dipelajari dan dicoba. Kebiasaan, adat istiadat, peraturan dan larangan, kuliner, objek wisata, teknologi, bahasa, dan lain-lain. Ketika pertama kali tiba di Jepang, 21 Maret 2012, saya bersama teman-teman peserta pertukaran pelajar menjalani masa orientasi di Tokyo. Kesempatan bertemu dengan teman-teman dari berbagai negara semakin menambah wawasan saya mengenai masalah sosial dan budaya. Sungguh melelahkan, tetapi menyenangkan. ketika tiba waktunya bertemu dengan Host Family, saya bersama ketiga teman lainnya: Domi (Hungaria), Non (Thailand), dan Hedy (Cina) menuju Yokohama Support Center dengan menaikki bus. Setelah sesi foto bersama, seluruh peserta menuju ke rumah host family-nya masing-masing. Saya bersama keluarga Yoshimura-san pergi naik mobil ke bilangan Saiwai-ku, Kawasaki-shi. Kesan pertama say adalah mereka sangat baik, ramah, dan perhatian.

              Seminggu sudah saya tinggal di Jepang. Pada tanggal 28 Maret 2012, host family mengadakan acara Welcome Party di rumah. Anju-san (Host Sister) mengajak teman-teman sekolahnya untuk ikut serta. Ada kue tart bundar bertuliskan “Youkoso Nippon e Bintang-chan” dalam huruf hiragana, katakana, dan kanji. Dalam Bahasa Indonesia, artinya adalah “Selamat Datang di Jepang Bintang-chan.” Senang sekali bisa disambut sedemikian rupa. Kami banyak bercerita satu sama lain mengenai kehidupan remaja di Jepang dan Indonesia. Sekaligus menambah wawasan tentang bagaimana cara bersosialisasi yang baik di Jepang.

              Tentu, kesempatan selama di Jepang tidak ingin saya sia-siakan. Berhubung ada saudara yang seumuran, dia bias merekomendasikan tempat-tempat yang patut saya kunjungi. Pada tanggal 30 Maret 2012, saya dan Anju-san pergi naik kereta ke Tokyo-to, Shibuya-ku, Harajuku. Memakan waktu kurang lebih 30 menit dari Kawasaki-shi. Sedikit berbelanja di shopping street ternama, Takeshita Dori Street. Menurut orang Jepang, barang-barang di Harajuku tergolong lebih murah dibandingkan tempat lainnya. Saya pun sungguh kagum dengan fesyen di sana. Mereka berani tampil beda asalkan apa yang mereka pakai adalah apa yang mereka sukai. Tempat lainnya yang saya kunjungi adalah Yumemisaki Doubutsu Kouen (Taman sakura dan kebun binatang di Kawaski-shi), Kotoku-in Temple Great Buddha (Kamakura-shi), Wakamiya Oji (jalan sepanjang 1.8km di tengah Kamakura-shi dengan pohon sakura di kedua sisinya), Trusugaoka Hachimangu Shrine (Kamakura-shi). Sayangnya, ketika saya datang ke Wakamiya Oji, musim sakura telah usai. Tetapi, acara jalan-jalan tetap menyenangkan.

              Sebulan setengah sudah saya di Jepang. Setiap hari saya berlatih minimal 6 karakter kanji dan tata bahasa dibantu host family. Sulit memang, tetapi selalu ingin dicoba. Saya sedikit merasa lega ketika akhirnya Golden Week tiba. Setiap tanggal 3 hingga 6 Mei merupakan hari libur bagi orang Jepang. Maka host mother mengajak saya pergi ke Miyagi-ken, Sendai-shi bertemu keluarga beliau dengan menaikki Shinkansen. Di sana, saya berkesempatan mencicipi lebih banyak ragam kuliner Jepang, mencoba Kimono (pakaian tradisional Jepang), dan mengujungi Higashi Matsushima (tempat korban Tsunami Jepang 11 Maret 2011 lalu). Saat saya mengujungi Higashi Matsushima, kebetulan bertepatan dengan Kodomo no Hi, yaitu hari anak di Jepang khususnya bagi anak laki-laki pada tanggal 5 Mei 2012. Sehingga saya sempat turut serta dalam acara Festival Koinobori.

              Akhirnya mulai tanggal 8 Mei 2012, kembali ke rutinitas sebagai pelajar SMA. Di Kumon Kokusai Gakuen saya adalah koohai, karena saya adalah murid kelas 1 SMA. Di sekolah, saya duduk di kelas 4B dengan Yokoyama Sensei sebagai wali kelas. Sekolah dimulai pukul 08.40 hingga pukul 15.10. Namun, sejak saya mengikuti klub Kyudo (olahraga panahan tradisional Jepang), pada hari Rabu dan Jum’at saya pulang lebih sore sekitar pukul 18.00. Host mother sangat baik karena selalu menyediakan Obento yang lezat rasanya. Favorit saya adalah Tempura dan Udon. Pada dasarnya, saya memang penggemar masakan jepang sehingga nyaris tidak ada masalah. Sayangnya, sampai sekarang makanan Jepang yang tidak bisa saya makan adalah Nato (kacang kedelai rebus dengan telur mentah ditaburi daun bawang) dan Wasabi (perisa mint yang biasanya dimakan bersama men, sushi, atau sashimi). Masih terasa asing di lidah saya, tetapi telah saya coba.

        Saya pun turut serta dalam acara Taikusai atau Festival Olahraga sekolah yang ke-20 pada tanggal 26 Mei 2012. Dua minggu sebelum acara adalah hari-hari tersibuk persiapan class dance, cheering group (Suzaku Team), dan Nawa Wars (lompat tali kelas dilakukan oleh sekitar 40 orang secara bersamaan). Berkat kerja keras dan kekompakan kami, alhamdulillah kami mendapatkan trophy kepala sekolah. Momen tersebut sangat berharga karena setiap acara taikusai, hanya ada satu trophy sebagai juara umum. Saat ini, saya sedang tidak sabar menunggu acara bunkasai atau festival budaya pada bulan Oktober mendatang. Semoga kelas saya mendapatkan juara lagi. Sekian pengalaman saya, semoga dapat menginspirasi.