Jepang
memang indah. Negara ini memang tidak terlalu besar secara fisik. Tetapi,
sangat kental budayanya. Namun, bukan berarti kuno. Jepang sangat fleksibel
terhadap perkembangan zaman modern dengan tetap melestarikan kebudayaan yang
telah ada. Hal yang paling dominan adalah bagaimana masyarakat Jepang sendiri
menyikapinya.
Saya merasa sangat beruntung
karena mendapatkan kesempatan untuk tinggal dan mempelajari budaya mereka
selama kurang lebih setahun. Selama kurun waktu kurang lebih tiga bulan ini,
begitu banyak hal yang perlu dipelajari dan dicoba. Kebiasaan, adat istiadat,
peraturan dan larangan, kuliner, objek wisata, teknologi, bahasa, dan
lain-lain. Ketika pertama kali tiba di Jepang, 21 Maret 2012, saya bersama teman-teman
peserta pertukaran pelajar menjalani masa orientasi di Tokyo. Kesempatan
bertemu dengan teman-teman dari berbagai negara semakin menambah wawasan saya
mengenai masalah sosial dan budaya. Sungguh melelahkan, tetapi menyenangkan. ketika
tiba waktunya bertemu dengan Host Family,
saya bersama ketiga teman lainnya: Domi (Hungaria), Non (Thailand), dan Hedy
(Cina) menuju Yokohama Support Center dengan menaikki bus. Setelah sesi foto
bersama, seluruh peserta menuju ke rumah host
family-nya masing-masing. Saya bersama keluarga Yoshimura-san pergi naik
mobil ke bilangan Saiwai-ku, Kawasaki-shi. Kesan pertama say adalah mereka
sangat baik, ramah, dan perhatian.
Seminggu sudah saya tinggal di
Jepang. Pada tanggal 28 Maret 2012, host family mengadakan acara Welcome Party di rumah. Anju-san (Host Sister)
mengajak teman-teman sekolahnya untuk ikut serta. Ada kue tart bundar
bertuliskan “Youkoso Nippon e Bintang-chan” dalam huruf hiragana, katakana, dan
kanji. Dalam Bahasa Indonesia, artinya adalah “Selamat Datang di Jepang
Bintang-chan.” Senang sekali bisa disambut sedemikian rupa. Kami banyak
bercerita satu sama lain mengenai kehidupan remaja di Jepang dan Indonesia.
Sekaligus menambah wawasan tentang bagaimana cara bersosialisasi yang baik di Jepang.
Tentu, kesempatan selama di Jepang
tidak ingin saya sia-siakan. Berhubung ada saudara yang seumuran, dia bias
merekomendasikan tempat-tempat yang patut saya kunjungi. Pada tanggal 30 Maret
2012, saya dan Anju-san pergi naik kereta ke Tokyo-to, Shibuya-ku, Harajuku. Memakan
waktu kurang lebih 30 menit dari Kawasaki-shi. Sedikit berbelanja di shopping street ternama, Takeshita Dori Street. Menurut orang
Jepang, barang-barang di Harajuku tergolong lebih murah dibandingkan tempat
lainnya. Saya pun sungguh kagum dengan fesyen di sana. Mereka berani tampil
beda asalkan apa yang mereka pakai adalah apa yang mereka sukai. Tempat lainnya
yang saya kunjungi adalah Yumemisaki
Doubutsu Kouen (Taman sakura dan kebun binatang di Kawaski-shi), Kotoku-in Temple Great Buddha (Kamakura-shi),
Wakamiya Oji (jalan sepanjang 1.8km
di tengah Kamakura-shi dengan pohon sakura di kedua sisinya), Trusugaoka Hachimangu Shrine (Kamakura-shi).
Sayangnya, ketika saya datang ke Wakamiya
Oji, musim sakura telah usai. Tetapi, acara jalan-jalan tetap menyenangkan.
Sebulan setengah sudah saya di
Jepang. Setiap hari saya berlatih minimal 6 karakter kanji dan tata bahasa
dibantu host family. Sulit memang, tetapi
selalu ingin dicoba. Saya sedikit merasa lega ketika akhirnya Golden Week tiba. Setiap tanggal 3
hingga 6 Mei merupakan hari libur bagi orang Jepang. Maka host mother mengajak saya pergi ke Miyagi-ken, Sendai-shi bertemu
keluarga beliau dengan menaikki Shinkansen.
Di sana, saya berkesempatan mencicipi lebih banyak ragam kuliner Jepang,
mencoba Kimono (pakaian tradisional Jepang), dan mengujungi Higashi Matsushima
(tempat korban Tsunami Jepang 11 Maret 2011 lalu). Saat saya mengujungi Higashi
Matsushima, kebetulan bertepatan dengan Kodomo
no Hi, yaitu hari anak di Jepang khususnya bagi anak laki-laki pada tanggal
5 Mei 2012. Sehingga saya sempat turut serta dalam acara Festival Koinobori.
Akhirnya mulai tanggal 8 Mei 2012,
kembali ke rutinitas sebagai pelajar SMA. Di Kumon Kokusai Gakuen saya adalah koohai, karena saya adalah murid kelas 1
SMA. Di sekolah, saya duduk di kelas 4B dengan Yokoyama Sensei sebagai wali
kelas. Sekolah dimulai pukul 08.40 hingga pukul 15.10. Namun, sejak saya
mengikuti klub Kyudo (olahraga
panahan tradisional Jepang), pada hari Rabu dan Jum’at saya pulang lebih sore
sekitar pukul 18.00. Host mother
sangat baik karena selalu menyediakan Obento yang lezat rasanya. Favorit saya
adalah Tempura dan Udon. Pada dasarnya, saya memang
penggemar masakan jepang sehingga nyaris tidak ada masalah. Sayangnya, sampai
sekarang makanan Jepang yang tidak bisa saya makan adalah Nato (kacang kedelai rebus dengan telur mentah ditaburi daun
bawang) dan Wasabi (perisa mint yang biasanya
dimakan bersama men, sushi, atau sashimi). Masih terasa asing di lidah
saya, tetapi telah saya coba.
Saya pun turut serta dalam acara Taikusai atau Festival Olahraga sekolah
yang ke-20 pada tanggal 26 Mei 2012. Dua minggu sebelum acara adalah hari-hari
tersibuk persiapan class dance, cheering
group (Suzaku Team), dan Nawa Wars (lompat
tali kelas dilakukan oleh sekitar 40 orang secara bersamaan). Berkat kerja
keras dan kekompakan kami, alhamdulillah kami mendapatkan trophy kepala sekolah. Momen tersebut sangat berharga karena setiap
acara taikusai, hanya ada satu trophy sebagai juara umum. Saat ini, saya
sedang tidak sabar menunggu acara bunkasai
atau festival budaya pada bulan Oktober mendatang. Semoga kelas saya
mendapatkan juara lagi. Sekian pengalaman saya, semoga dapat menginspirasi.