Waktu
itu berputar dengan kecepatan dan arah yang sama. Tetapi, perasaan kita selalu
berbeda. Yang kurasakan saat ini, waktu selalu berputar cepat ke depan. Angin
musim gugur menyadarkanku bahwa musim panas telah berakhir. Aku sudah lebih
dari setengah perjalanan.
Pepatah mengatakan, “Bila kamu
merasa waktu berjalan cepat, semata-mata karena perasaan betah di tempat kamu
berada sekarang.” Bagaimana bisa tidak betah kalau aku dikelilingi hal-hal luar
biasa yang patut aku syukuri setiap waktu. Kuliner super lezat, tempat-tempat
wisata yang keren, kegiatan-kegiatan luar sekolah, dan yang tak kalah penting
adalah orang-orang yang telah membantuku melewati masa susah senang di Jepang.
Memasuki
bulan September, mengawali kesibukkan dan merelakan liburan musim panas yang
luar biasa itu berakhir, sempat berat hati juga. Tak hanya rutinitas sekolah,
tetapi juga kelas Bahasa Jepang di Yokohama bersama ketiga teman lainnya di
Kanagawa Chapter. Namun, boleh aku bersyukur karena akhirnya pada 23 September
2012, aku bersama Host Father pergi
ke Osaka. Tujuan kami berbeda memang. Aku akan pergi menonton konser
Hey!Say!JUMP di Kyocera Dome, sedangkan beliau yang kangen dengan Osaka ingin
keliling kota, baru kemudian pulang bersama-sama. Beruntung sekali bisa menjadi
Host Student dari Host Father sebaik beliau. Hari itu
melelahkan sekali karena berdesakkan bersama lebih dari 39.000 penonton
lainnya, yang mayoritas adalah remaja perempuan Jepang sebayaku. Sempat malu
juga, sih. Aku sampai harus dilihati dari atas sampai bawah. Beberapa malah
berani bertanya padaku. Yang paling membuatku kaget, semua
pertannyaan
mereka sejenis. “Apakah kamu ke Jepang untuk menonton konser ini lalu kembali
ke Negara asal?” Kalau dipikir-pikir, lucu ya. Aku hanya tertawa kecil seraya
menjawab “Tidak, saya siswi pertukaran pelajar. Sudah tinggal di Jepang sejak Maret
tahun2012.”
Belum
hilang rasa kaget saya pertannyaan-pertannyaan lainnya masih bermunculan. Apakah Hey!Say!JUMP terkenal di Indonesia? dan
Apakah karena suka dengan Hey!Say!JUMP
jadi salah satu motivasi terbesar belajar di Jepang? Untuk pertannyaan yang
terakhir, hanya bisa dijawab dalam hati saja sambil tertawa geli.
Bulan
Oktober, tak kalah seru pastinya. Host
School-ku ini memang juara kalau urusan belajar.
Jangan salah, belajar di sekolahku tidak hanya
duduk
di kelas dan menjadi pasif. Sekolaku ini swasta, makanya teman-temanku tak
hanya pelajar SMA Jepang. Tetapi, pelajar SMP Jepang pun banyak. Serunya lagi,
kita juga belajar bersama. Mulai tanggal 8 Oktober 2012, kami akan melaksanakan
program Interesting Study selama 5 hari. Di program ini, kita bebas
memilih hal-hal yang ingin kita pelajari. Karena aku suka memasak, maka aku mengikuti
program bernama “Yummy Scrummy Tucker” bersama teman-teman dan guruku yang
berasal dari Australia. Benar, karena sekolahku adalah Sekolah Internasional,
sebagian besar guru masih relatif muda dan berasal dari mancanegara. Selain
belajar masak, kami juga diajarkan cara berbelanja hemat untuk tiga menu
makanan atau lebih dengan modal 5.000 yen yang ditanggung oleh sekolah. Karena
siswi SMA hanya 4 orang, kami dibagi menjadi empat kelompok dengan siswi-siswi
SMA sebagai ketua kelompok. Partner memasakku
adalah siswa-siswi kelas 1 SMP yang masih imut-imut. Mereka lucu sekali ketika
memasak, dan tentu saja jago. Setelah itu, kita
membuat
poster makanan yang kita buat untuk dipajang saat acara Bunkasai.
Kurang
lebih 2 minggu sebelum acara Bunkasai
atau Festival Budaya. Kelasku sibuk sekali, terutama dalam mendekor ruangan
kelas. Tema Bunkasai tahun ini adalah “Bon Voyage!” yang diambil dari bahasa
Perancis yang artinya “Selamat Berlayar!” Secara denotasi, kurang lebih kita
harus menjadi lebih kreatif dan inovatif dalam menyukseskan acara sekolah
terbesar selain Taikusai (Festival
Olahraga). Kelasku akan menayangkan video bertema “Dokkiri Movie” atau Film
Kaget. Mengapa film kaget? Karena, isi film kami adalah mengukir memori
masa SMA dengan mengerjai teman-teman di sekolah. Aku pun memegang peran dalam
membuat orang-orang kebigungan. Berpura-pura marah kepada orang-orang yang
lewat di koridor karena sampah berserakan (yang sengaja ditaruh) tidak dipungut,
dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Aku mati-matian menahan tawa melihat wajah
mereka kebingungan. Hebatnya lagi, ketika kami berusaha mengerjai salah seorang
teman sekelas, wali kelas kami juga ikut memegang peran. Guru yang tak ada
duanya. Hahaha. Alhamdulillah setelah
dekor kelas yang melelahkan, video kami berhasil ditonton oleh tak kurang dari
350 pengunjung Bunkasai sekolah kami. Suatu kerja keras yang membuahkan hasil
yang patut disyukuri.
Bosan
hanya bisa belajar di Yokohama, aku juga ingin bisa belajar di Prefektur lain.
Tanggal 3 November 2012, aku bersama teman-teman di Kanagawa Chapter pergi ke
Mito-shi, Ibaraki-ken untuk mengikuti program Short Exchange Study selama satu minggu. Host Family-ku benar-benar berbeda. Aku jadi punya Host Sisters dan Host Brother. Salah seorang Host
Sister-ku justru teman sekelasku sendiri. Kapanpun, ke manapun kami selalu
bersama. Saat belajar di sekolah, mengerjakan PR di rumah, dan refreshing
keliling Kota Mito, ibukota Ibaraki Prefektur yang indah, bersih dan nyaman. Tak
hanya itu, kerabat Host Family-ku
juga banyak orang asing, salah satunya dari Indonesia yang berasal dari
Jakarta.
Host School-ku
adalah Jyoushi Koukou alias Sekolah
khusus perempuan. Akhirnya, kebagian kesempatan bisa pakai seragam Jepang.
Alhamdulillah, walaupun bukan seragam sailor impianku, seragam jump skirt dan blazer ini tetap manis, sopan, dan nyaman dipakai. Apalagi, suhu di
Kota Mito sedikit lebih rendah dibandingkan di Yokohama. Sekolahku ini nyaris
bersebelahan dengan apartemen Host Family-ku.
Hanya 3 menit berjalan kaki, sampai. Bahkan, dari beranda pun bisa lihat sekolahku,
dan nyaris seantero Kota Mito. Sempat kaget juga karena kantor NHK (Stasiun TV
Nasional Jepang) terletak di depan apartemen Host Family-ku. Nyaman benar, dekat stasiun (hanya 15 menit),
museum seni, sekolah, konbini, dan lain-lain.
Sekolah
baruku ini sudah berumur 110 tahun. Sama seperti umur Disney, ya. Hehehe. Walaupun hanya seminggu, aku dan
teman-teman cepat akrab. Bahkan saat jam kosong, kami membuat gelang bersama.
Bahan-bahannya boleh murah meriah, hasilnya itu, loh. Hihi. Jadi, kami selalu pakai gelang itu setiap hari. Tetapi, ada
yang menganggetkan. Saat pualng sekolah, aku dicegat teman-teman dari kelas
lain yang masih malu-malu. Tak tahunya mereka hanya mau bilang “Bibi-san, suka
Hey!Say!JUMP juga, ya?” Aku terbelalak setengah mati. Dikira ada apa, tak
tahunya JUMPER (sebutan untuk penggemar Hey!Say!JUMP) juga mereka. Keesokan
harinya, mereka mampir ke kelasku saat jam istirahat sambil membawa
berbundel-bundel majalah remaja Jepang, music
player, album foto, dan entah apa lagi. Kami langsung heboh berbincang-bincang
tentang Hey!Say!JUMP sampai ditertawakan oleh teman-teman lainnya.
Mungkin,
orang tuaku sudah lupa aku pernah belajar menari. Aku sangat kangen menari.
Sejak SD aku sudah bergabung dengan grup modern
dance saat masih tinggal di Bogor. Akhirnya, aku bisa melepas rasa rindu
akan hobi lamaku dengan belajar menari lagi secara gratis. Aku sempat belajar Tan dance dan Jazz dance. Susah, sih, karena dasarku adalah Hip Hop dance. Banyak sekali gerakan spinning dan jumping yang
membutuhkan keseimbangan serta timing
yang tepat. Walaupun begitu, tetap menyenangkan. Guru tariku baik sekali,
teman-teman juga sabar mengajari. Bertambah lagi sahabat-sahabat Jepangku.
Satu
minggu yang indah itu harus segera kuakhiri. Host Family-ku di Yokohama pasti
sudah kangen. Sedih memang harus berpisah dengan mereka. Tetapi, kami tetap
berhubungan baik mulai sekarang dan seterusnya. Kenang-kenangan yang mereka
berikan padaku akan aku simpan dengan baik. Mereka telah menjadi bagian dari
perjalanku ini.
Musim
dingin segera datang. Tes Bahasa Jepang dan Mid Semester harus kuhadapi di awal
Desember. Aku pun berharap kami semua sehat hingga kembali ke tanah air. Semoga
Allah selalu memudahkan jalan hamba-hambaNya yang sedang dalam perjalanan
menuntut ilmu, membawa nama tanah air, Indonesia.