Tahun ini, agak aneh. Saya memang 17 tahun dan seharusnya ikut serta dalam Ujian Nasional 2013.
Namun, saya malah libur. Selama kurang lebih 4 hari ini saya malah beristirahat. Bukan karena saya sakit atau "tidak naik kelas," candaan teman-teman seangkatan saya lainnya.
Secara jenjang, saya memang tertinggal satu tahun di bawah teman sebaya. Namun, ini adalah jalan yang saya tempuh demi mewujudkan cita-cita saya dan keluarga.
Seperti yang saya ceritakan di postingan sebelum-sebelumbya, saya harus merantau ke Negeri Sakura mengikuti program pertukaran pelajar. Tidak mudah memang, apalagi merelakan teman-teman seangkatan bahkan adik kelas di kelas akselerasi untuk lulus duluan (haha).
Seminggu sebelum Ujian Nasional 2013 dilaksanakan, saya lihat teman-teman belajar serius bahkan sampai duduk-duduk di koridor sekolah. Saya iseng, ketika jam pelajaran kosong, saya ikut belajar. Bukan saya bermaksud tidak ingin bersosialisasi dengan teman-teman sekelas baru (yang dulunya memang adik kelas saya). Tetapi, tidak ada salahnya saya minta diajari. Toh, teman-teman saya, kan, sudah belajar lebih banyak materi daripada saya. Untuk materi kelas 11, saya yakin mereka juga sudah banyak latihan karena pasti masuk di UN. Ingat saya, waktu itu mereka sedang belajar Kimia dan Matematika. Yah, Matematika saya memang kurang cemerlang dibanding pelajaran yang lainnya. Jadilah , saya nimbrung belajar. Sekalian tanya-tanya persiapan UN mereka seperti apa. Kebanyakan dari yang mereka ceritakan, saya kurang paham. Terlalu banyak istilah-istilah baru tahun ini. Terutama mengenai persiapan masuk ke jenjang Universitas. Wajar, saya memang belum pernah ikut sosialisasi UN/ Universitas seperti mereka.
"Tolong doakan kami, ya. Kami mau Ujian Nasional. Semoga hati dan otak kami kuat menghadapinya. Kamu juga tahun depan semoga sukses," ujar temanku.
"Iya. Semangat, ya! Perpisahan Insya Allah juga datang."
Waktu halah bihalal, jujur saya menangis. Bukan saya tidak rela atau apa. Saya senang mereka bisa UN tahun ini. Saya hanya takut sebenarnya. Saya takut tidak bisa seperti mereka. Sudah banyak yang saya korbankan demi mimpi saya. Waktu, uang, dan kebersamaan dengankeluarga maupun sahabat. Masa SMA saya masih panjang.
Hari pertama UN, 15 April 2013. Gonjang-ganjing berita UN mulai tersebar di media massa.
"Ujian Nasional di berbagai daerah ditunda"
"Soal Ujian Nasional Kimia bocor karena difotokopi"
Bahkan di Twitter saya lihat teman-teman saya banyak yang kecewa
"LJK nya tipis banget, ngeri mau ngerobekknya"
"LJK UN tipis bener, pake karton aja sekalian"
"Soal UN Bahasa Indonesia maut bener. Fisika besok, gimana?"
Miris, sedih, bingung.
Saya merasa miris dan sedih, teman-teman saya bagai "Kelinci Percobaan" tahun ini. Dari cerita yang saya dengar, mereka semua punya cita-cita dan harapan yang tinggi untuk masa depan. Tuhan, jangan sampai semangat mereka kejdur hanya karena masalah UN ini.
Saya bingung, tahun depan kemungkinan hanya ada dua:
1. Ujian nasional ditiadakan (ini yang paling mustahil)
2. Ujian nasional akan lebih susah lagi. (Paket lebih banyak, soal makin susah, dan sejumlah kemungkinan yang masih X)
Bukannya saya ingin menjadi pesimis, hanya saja. Kalau UN ini hanya didukung oleh sebelah pihak, bagaimana mau suksesnya? Coba, kalauyang menjalani UN juga ikhlas, prmerintah tidak egois coba sistem ini-itu yang belum teruji. Alangkah UN itu sesuatu yang "sakral" untuk kita semua, bukan formalitas belaka.
Sewaktu saya masih bersekolah di Jepang. Kelas saya sempat huka forum diskusi saat pelajaran Bahasa Inggris.
"Kalau di Indonesia, apa bedanya pendidikan di sana dengan di Jepang?" tanya guru saya.
"Yah, nyaris serupa sebenarnya. Ada 2 tahun TK (Kindergarten), 6 tahun SD (Elementary School), 3 tahun SMP (Middle School), 3 tahun SMA (High School)."
"Kalau 'Sentaa Shiken' (Center Test)?"
"Ya, dari SD kita semua Ujian Nasional"
"Tiga kali? Jadi, 3 kali kelulusan?"
Saya kaget karena mereka kaget. Dulu, kalau tidak lulus UN, ya tidak lulus. Memang sekarang ada bantuan dari nilai sekolah. Tapi, tetap tidak membantu banyak. UN tetap jadi standar.
Sampai akhirnya seorangteman saya menyelutuk.
"Menakutkan. Kalau saya yang jadi siswi di sana, saya pasti tidak kuat. Bunuh diri, mungkin (Hahaha)"
Seisi kelas tertawa. Saya hanya menyunggingkan senyum.
"Memang pernah ada. Tetapi, menurut saya itu tindakan bodoh."
Allah memang punya sejuta rencana dibalik suatu rencana. Saya boleh jadi belum bisa Ujian Nasional tahun ini. Allah masih menyuruh saya untuk lebih banyak belajar lagi. Bila saya sukses suatu hari nanti, saya percaya itu berkat izin Allah yang membantu kerja keras saya.
Satu lagi, "Selamat untuk teman-teman yang sudah berhasil menyelesaikan Ujian Nasional. Bagi yang masih tertunda, semoga pertolongan Allah tetap menyertai kalian. Sukses adalah hak kita."
Total Pageviews
Thursday, April 18, 2013
Sunday, April 14, 2013
When We said "Hello" and "See You"
Woo hoo here I am finally on blogger again.
Just redesigned my page from cute to be braver.
Alright, so I got things to share to you.
Hope you like it. Enjoy! :)
Subscribe to:
Posts (Atom)
