Total Pageviews

Monday, December 31, 2012

Terakhir Namun Bukan Akhir

             Waktu itu berputar dengan kecepatan dan arah yang sama. Tetapi, perasaan kita selalu berbeda. Yang kurasakan saat ini, waktu selalu berputar cepat ke depan. Angin musim gugur menyadarkanku bahwa musim panas telah berakhir. Aku sudah lebih dari setengah perjalanan.
              Pepatah mengatakan, “Bila kamu merasa waktu berjalan cepat, semata-mata karena perasaan betah di tempat kamu berada sekarang.” Bagaimana bisa tidak betah kalau aku dikelilingi hal-hal luar biasa yang patut aku syukuri setiap waktu. Kuliner super lezat, tempat-tempat wisata yang keren, kegiatan-kegiatan luar sekolah, dan yang tak kalah penting adalah orang-orang yang telah membantuku melewati masa susah senang di Jepang.
Memasuki bulan September, mengawali kesibukkan dan merelakan liburan musim panas yang luar biasa itu berakhir, sempat berat hati juga. Tak hanya rutinitas sekolah, tetapi juga kelas Bahasa Jepang di Yokohama bersama ketiga teman lainnya di Kanagawa Chapter. Namun, boleh aku bersyukur karena akhirnya pada 23 September 2012, aku bersama Host Father pergi ke Osaka. Tujuan kami berbeda memang. Aku akan pergi menonton konser Hey!Say!JUMP di Kyocera Dome, sedangkan beliau yang kangen dengan Osaka ingin keliling kota, baru kemudian pulang bersama-sama. Beruntung sekali bisa menjadi Host Student dari Host Father sebaik beliau. Hari itu melelahkan sekali karena berdesakkan bersama lebih dari 39.000 penonton lainnya, yang mayoritas adalah remaja perempuan Jepang sebayaku. Sempat malu juga, sih. Aku sampai harus dilihati dari atas sampai bawah. Beberapa malah berani bertanya padaku. Yang paling membuatku kaget, semua pertannyaan mereka sejenis. “Apakah kamu ke Jepang untuk menonton konser ini lalu kembali ke Negara asal?” Kalau dipikir-pikir, lucu ya. Aku hanya tertawa kecil seraya menjawab “Tidak, saya siswi pertukaran pelajar. Sudah tinggal di Jepang sejak Maret tahun2012.”
Belum hilang rasa kaget saya pertannyaan-pertannyaan lainnya masih bermunculan. Apakah Hey!Say!JUMP terkenal di Indonesia? dan Apakah karena suka dengan Hey!Say!JUMP jadi salah satu motivasi terbesar belajar di Jepang? Untuk pertannyaan yang terakhir, hanya bisa dijawab dalam hati saja sambil tertawa geli.
Bulan Oktober, tak kalah seru pastinya. Host School-ku ini memang juara kalau urusan belajar. Jangan salah, belajar di sekolahku tidak hanya duduk di kelas dan menjadi pasif. Sekolaku ini swasta, makanya teman-temanku tak hanya pelajar SMA Jepang. Tetapi, pelajar SMP Jepang pun banyak. Serunya lagi, kita juga belajar bersama. Mulai tanggal 8 Oktober 2012, kami akan melaksanakan program Interesting Study  selama 5 hari. Di program ini, kita bebas memilih hal-hal yang ingin kita pelajari. Karena aku suka memasak, maka aku mengikuti program bernama “Yummy Scrummy Tucker” bersama teman-teman dan guruku yang berasal dari Australia. Benar, karena sekolahku adalah Sekolah Internasional, sebagian besar guru masih relatif muda dan berasal dari mancanegara. Selain belajar masak, kami juga diajarkan cara berbelanja hemat untuk tiga menu makanan atau lebih dengan modal 5.000 yen yang ditanggung oleh sekolah. Karena siswi SMA hanya 4 orang, kami dibagi menjadi empat kelompok dengan siswi-siswi SMA sebagai ketua kelompok. Partner memasakku adalah siswa-siswi kelas 1 SMP yang masih imut-imut. Mereka lucu sekali ketika memasak, dan tentu saja jago. Setelah itu, kita
membuat poster makanan yang kita buat untuk dipajang saat acara Bunkasai.
Kurang lebih 2 minggu sebelum acara Bunkasai atau Festival Budaya. Kelasku sibuk sekali, terutama dalam mendekor ruangan kelas. Tema Bunkasai tahun ini adalah “Bon Voyage!” yang diambil dari bahasa Perancis yang artinya “Selamat Berlayar!” Secara denotasi, kurang lebih kita harus menjadi lebih kreatif dan inovatif dalam menyukseskan acara sekolah terbesar selain Taikusai (Festival Olahraga). Kelasku akan menayangkan video bertema “Dokkiri Movie” atau Film Kaget. Mengapa film kaget?  Karena, isi film kami adalah mengukir memori masa SMA dengan mengerjai teman-teman di sekolah. Aku pun memegang peran dalam membuat orang-orang kebigungan. Berpura-pura marah kepada orang-orang yang lewat di koridor karena sampah berserakan (yang sengaja ditaruh) tidak dipungut, dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Aku mati-matian menahan tawa melihat wajah mereka kebingungan. Hebatnya lagi, ketika kami berusaha mengerjai salah seorang teman sekelas, wali kelas kami juga ikut memegang peran. Guru yang tak ada duanya. Hahaha. Alhamdulillah setelah dekor kelas yang melelahkan, video kami berhasil ditonton oleh tak kurang dari 350 pengunjung Bunkasai sekolah kami. Suatu kerja keras yang membuahkan hasil yang patut disyukuri.
Bosan hanya bisa belajar di Yokohama, aku juga ingin bisa belajar di Prefektur lain. Tanggal 3 November 2012, aku bersama teman-teman di Kanagawa Chapter pergi ke Mito-shi, Ibaraki-ken untuk mengikuti program Short Exchange Study selama satu minggu. Host Family-ku benar-benar berbeda. Aku jadi punya Host Sisters dan Host Brother. Salah seorang Host Sister-ku justru teman sekelasku sendiri. Kapanpun, ke manapun kami selalu bersama. Saat belajar di sekolah, mengerjakan PR di rumah, dan refreshing keliling Kota Mito, ibukota Ibaraki Prefektur yang indah, bersih dan nyaman. Tak hanya itu, kerabat Host Family-ku juga banyak orang asing, salah satunya dari Indonesia yang berasal dari Jakarta.
Host School-ku adalah Jyoushi Koukou alias Sekolah khusus perempuan. Akhirnya, kebagian kesempatan bisa pakai seragam Jepang. Alhamdulillah, walaupun bukan seragam sailor impianku, seragam jump skirt dan blazer ini tetap manis, sopan, dan nyaman dipakai. Apalagi, suhu di Kota Mito sedikit lebih rendah dibandingkan di Yokohama. Sekolahku ini nyaris bersebelahan dengan apartemen Host Family-ku. Hanya 3 menit berjalan kaki, sampai. Bahkan, dari beranda pun bisa lihat sekolahku, dan nyaris seantero Kota Mito. Sempat kaget juga karena kantor NHK (Stasiun TV Nasional Jepang) terletak di depan apartemen Host Family-ku. Nyaman benar, dekat stasiun (hanya 15 menit), museum seni, sekolah, konbini, dan lain-lain.
Sekolah baruku ini sudah berumur 110 tahun. Sama seperti umur Disney, ya. Hehehe. Walaupun hanya seminggu, aku dan teman-teman cepat akrab. Bahkan saat jam kosong, kami membuat gelang bersama. Bahan-bahannya boleh murah meriah, hasilnya itu, loh. Hihi. Jadi, kami selalu pakai gelang itu setiap hari. Tetapi, ada yang menganggetkan. Saat pualng sekolah, aku dicegat teman-teman dari kelas lain yang masih malu-malu. Tak tahunya mereka hanya mau bilang “Bibi-san, suka Hey!Say!JUMP juga, ya?” Aku terbelalak setengah mati. Dikira ada apa, tak tahunya JUMPER (sebutan untuk penggemar Hey!Say!JUMP) juga mereka. Keesokan harinya, mereka mampir ke kelasku saat jam istirahat sambil membawa berbundel-bundel majalah remaja Jepang, music player, album foto, dan entah apa lagi. Kami langsung heboh berbincang-bincang tentang Hey!Say!JUMP sampai ditertawakan oleh teman-teman lainnya.
Mungkin, orang tuaku sudah lupa aku pernah belajar menari. Aku sangat kangen menari. Sejak SD aku sudah bergabung dengan grup modern dance saat masih tinggal di Bogor. Akhirnya, aku bisa melepas rasa rindu akan hobi lamaku dengan belajar menari lagi secara gratis. Aku sempat belajar Tan dance dan Jazz dance. Susah, sih, karena dasarku adalah Hip Hop dance. Banyak sekali gerakan spinning dan jumping yang membutuhkan keseimbangan serta timing yang tepat. Walaupun begitu, tetap menyenangkan. Guru tariku baik sekali, teman-teman juga sabar mengajari. Bertambah lagi sahabat-sahabat Jepangku.
Satu minggu yang indah itu harus segera kuakhiri. Host Family-ku di Yokohama pasti sudah kangen. Sedih memang harus berpisah dengan mereka. Tetapi, kami tetap berhubungan baik mulai sekarang dan seterusnya. Kenang-kenangan yang mereka berikan padaku akan aku simpan dengan baik. Mereka telah menjadi bagian dari perjalanku ini.
Musim dingin segera datang. Tes Bahasa Jepang dan Mid Semester harus kuhadapi di awal Desember. Aku pun berharap kami semua sehat hingga kembali ke tanah air. Semoga Allah selalu memudahkan jalan hamba-hambaNya yang sedang dalam perjalanan menuntut ilmu, membawa nama tanah air, Indonesia.