Total Pageviews

Thursday, November 18, 2010

SimPATI Freedom Teman Terbaikku

Era globalisasi dewasa ini telah menjadi suatu arus deras yang mengubah pandangan hidup sebagian besar masyarakat Indonesia khususnya. Handphone telah beralih menjadi kebutuhan primer bagi setiap orang tanpa memandang latar belakang mereka seperti apa. Perusahaan-perusahaan telekomunikasi baik negeri maupun swasta, saling berlomba menggaet konstumer sebanyak mungkin. Setiap aku melintasi ruas-ruas jalan besar ibu kota, selalu terpampang baliho yang berisikan iklan niaga beraneka ragam. Satu yang kurasa telah kulihat puluhan kali, iklan operator telekomunikasi. Entahlah, kok, sepertinya yang satu hampir ada di setiap tempat, di baliho, reklame, brosur, di mana-mana.
“Pa, kira-kira anggaran perusahaan komersial kayak begitu berapa, ya, buat promosi aja?” tanyaku pada Papa dalam perjalanan pulang dari asrama.
“Wah, banyaklah pastinya! Pasang iklan, kan, nggak murah, Mba. Apalagi untuk perusahaan besar kayak Telkomsel. Yang tadi Mba lihat itu baru yang di Kota Palembang aja, lha yang di kota-kota lain? Cabang Telkomsel itu, kan, banyak banget. Sampai ke pelosok-pelosok Indonesia malahan, ” jelas Papa panjang lebar.
Aku tergumam merenung dibuatnya hingga suara decitan kaca mobil yang dibuka turun membuatku sedikit tersentak. Papa membeli koran Sriwijaya Post dari seorang pedagang Koran eceran. Aku meminjam sebentar, mulai membaca headlines dan berita-berita actual lainnya. Tiba di halaman perniagaan, ada halaman iklan yang berisikan beragam iklan. SimPATI freedom, salah satunya. Wah, SimPATI sudah ada produk baru lagi! Dengan Sherina sebagai model iklannya, SimPATI freedom tampil elegan dengan warna dominan merahnya, pasti menarik perhatian banyak kostumer.
Sebenarnya keluargaku merupakan pengguna SimPATI sejak pertama kali memiliki telepon genggam . Tiba-tiba pikiranku kembali melayang mengingat kejadian dua hari yang lalu. Kejadian itulah yang dengan sukses membuatku menjadi bad mood sepanjang hari. Handphone ku yang telah kurang lebih seminggu ditinggal di rumah, tiba-tiba hilang atau terselip entah di mana. Semua karena ulah kedua adikku yang masih kecil. Padahal, handphone ku baru tiga bulan yang lalu dibelikan papa. Terlebih lagi, di dalamnya ada sim-card SimPATI freedom yang telah menyimpan ratusan nomor telepon teman dan keluarga, ribuan sms, dan lain sebagainya. Terlalu banyak kenangan yang telah aku lewati bersama handphone dan SimPATI ku. Kedengarannya cengeng memang, tetapi hal tersebut memang patut untuk disesalkan. Pernah sewaktu ketika melalui SimPATI ku, aku mendapatkan berita hasil seleksi masuk SMA Plus Negeri 17 Palembang, sekolah yang telah aku impi-impikan sejak lama. Berbagai cerita telah kubagi dan kudengar bersama teman-teman lainnya, terutama dengan sahabat baikku. Terkadang, hingga larut malam, kami masih saling sms atau telepon. Untunglah kami sesama pengguna SimPATI freedom, tentunya tidak akan terlalu mahal tarifnya. Sepanjang malam, aku merasa nyaris frustasi, SMA Plus Negeri 17 Palembang hanya untuk mendapatkan namaku disebutkan dalam “Daftar Siswa yang Lolos Seleksi Tahap I.” Malam itu, aku memaksa Telokmsel Flash ku sms di SimPATI freedom ku untuk mengolah data lebih banyak. Belasan sms yang masuk ke nomor SimPATI ku nyaris serupa, yaitu “Bin, gimana hasil tes nya? Tolong liatin nama aku, dong! Thanks ya!” Sambil menunggu datanya keluar di website, aku melakukan chatting bersama siswa lainnya. Wah, malam itu terasa cepat berjalan, apalagi koneksi internet yang memang ngebut, tuh! Kemudian, aku memutuskan untuk pergi tidur dan membuka website itu di pagi hari.
Keesokan harinya, tiba-tiba temanku dengan laptop di tangannya, berteriak lantang “PENGUMUMAN JUBEL SUDAH ADA!” teriaknya sambil berlari. Sontak, seantero sekolah berlari mengikutinya dan berebutan ingin melihat pengumuman itu. Syukurlah, aku diterima. Bangga, senang, puas rasanya. Walaupun baru tahap seleksi I, namun sudah cukup membuat hariku lebih cerah.
“Hei, kok bengong?” tanya papa mengagetkanku. Aku seketika tersadar bahwa aku telah terhanyut dalam lamunanku terlalu lama.
“Hehe, enggak kok, Pa, “ jawabku mengeles sambil tertawa kecil.
Ternyata pengalaman bersama SimPATI yang selalu setia menemaniku dalam keadaan apapun itu, baru kusadari maknanya. Beberapa hari ini aku aakan mulai menabung untuk dapat membeli handphone baru sendiri, tentunya dengan SimPATI freedom yang baru, penghubung tali silahturahmiku dengan sesama.

No comments:

Post a Comment